Kedutaan Besar Republik Indonesia
Ottawa
Embassy of the Republic of Indonesia
Ambassade de la RÉpublique d'Indonésie

Delegasi Indonesia pada the 31st Open-Ended Working Group Montreal Protocol

Montreal, 1-5 Agustus 2011

Delegasi Indonesia dipimpin oleh Bapak Arief Yuwono, Deputi Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup telah menghadiri the Thirty First Open-ended Working Group to the Parties of Montreal Protocol on Substances that Deplete the Ozone Layer di Montreal, Kanada, 1 – 5 Agustus 2011. Delegasi Indonesia terdiri dari Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perindustrian dan KBRI Ottawa.  Pertemuan diikuti oleh lebih dari 400 peserta dari 196 negara-negara pihak, NGO’s dan Observers.

Pertemuan diselenggarakan oleh United Nations Environment Programme (UNEP), dibawah Ozone Secretariat ini membahas mengenai isu-isu:

  1. Report of the Technology and Economic Assessment Panel’s task force on the 2012‑2014 replenishment of the Multilateral Fund for the Implementation of the Montreal Protocol.
  2. Proposed amendments to the Montreal Protocol.
  3. 2011 progress report of the Technology and Economic Assessment Panel.
  4. Issues related to exemptions from Article 2 of the Montreal Protocol:
    1. Nominations for essential-use exemptions for 2012 and 2013;
    2. Nominations for critical-use exemptions for 2012 and 2013;
    3. Quarantine and pre-shipment issues (decision XXI/10);
    4. Laboratory and analytical uses of ozone-depleting substances (decisions XXI/6 and XXII/7);
    5. Joint report of the Technology and Economic Assessment Panel and the Executive Committee of the Multilateral Fund on progress in phasing out ozone-depleting substances used as process agents (decision XXI/3);
    6. Investigation by the Technology and Economic Assessment Panel into alternatives to ozone-depleting substances in exempted feedstock and process‑agent uses and assessment of the feasibility of reducing or eliminating such uses and related emissions (decision XXI/8).
  5. Environmentally sound management of banks of ozone-depleting substances (decision XXI/2, paragraph 7, and decision XXII/10).
  6. Synthesis report of the 2010 assessments of the Montreal Protocol assessment panels.
  7. Potential areas of focus for the assessment panels’ 2014 quadrennial reports.
  8. Status of Nepal relative to the Copenhagen Amendment to the Montreal Protocol.
  9. Other matters.
  10. Adoption of the report.

Isu yang menjadi pembahasan hangat dalam pertemuan adalah  Agenda Item 5 yaitu: Proposed amendments to the Montreal Protocol dimana banyak negara belum siap mendukung kontrol terhadap poduksi dan konsumsi Hydroflourocarbon (HFCs) karena teknologi pengganti HFC belum tersedia.

Pertemuan Executive Committee yang berlangsung sebelumnya tanggal 25-29 Juli 2011, Anggota Executive Committee telah menyetujui proposal Indonesia terkait dengan rencana penghapusan konsumsi Hidrokloroflorokarbon (HCFC) tahap I, dengan target pembekuan pada tahun 2013 dan pengurangan konsumsi HCFC sebesar 10% pada tahun 2015. Untuk pelaksanaan kegiatan ini, Indonesia memperoleh bantuan dana hibah dari Multilateral Fund sebesar USD 13,6 juta. Pendanaan ini akan digunakan untuk membantu industri pengguna HCFC dalam penggantian teknologi menjadi teknologi yang zero ozone depletion potential dan rendah potensi pemanasan global (low global warming potential).

Pada side event pada tanggal 2 Agustus 2011, Wakil Ketua Delegasi Indonesia, Ibu Sulistyowati dari Kementerian Lingkungan Hidup  melakukan presentasi terkait dengan rencana pemerintah dan industri di Indonesia untuk menggunakan Hidroflorokarbon 32 (HFC 32) sebagai teknologi alternatif pengganti HCFC pada sektor Air Conditioner.

Para pertemuan MOP ke-22 di Bangkok, tahun 2010, Indonesia ditetapkan sebagai tuan rumah untuk pertemuan Executive Committee Meeting ke 65, COP ke 9 dan MOP ke 23 yang akan diselenggarakan berturut-turut pada tanggal 13-17 November  2011 dan 21-25 November 2011.  Sebagai bagian dari persiapan tersebut, Ketua Delegasi Indonesia, Bapak Arief Yuwono melakukan presentasi mengenai kesiapan Indonesia, khususnya Bali yang akan menjadi tempat berlangsungnya pertemuan tersebut.

Untuk mendukung presentasi Ketua Delegasi, Panitia Penyelenggara, dalam hal ini Ozone Secretariat juga menyediakan meja informasi untuk mempromosikan Bali dan Indonesia serta memberikan penjelasan lebih lanjut bagi calon delegasi yang akan menghadiri pertemuan Executive Committee ke 65, COP´9 dan MOP 23. Meja informasi dilengkapi dengan brosur, DVD, dan kerajinan khas Bali.

Sumber: KBRI Ottawa