Kedutaan Besar Republik Indonesia
Ottawa
Embassy of the Republic of Indonesia
Ambassade de la RÉpublique d'Indonésie

70 tahun Pertempuran Angkatan Laut Sekutu Melawan Jerman di Samudera Atlantik

Ottawa – Minggu pertama di bulan Mei, yaitu tanggal 2 Mei 2015, ada suasana yang berbeda di kota Ottawa. Apabila dihari-hari sebelumnya jalanan di kota terbilang lancar untuk dilalui, kali ini terdapat banyak sendatan di jalanan utama. Tibanya musim semi memang tampak semarak karena masyarakat Kanada pada umumnya lebih banyak beraktivitas di luar rumah untuk menikmati sapuan sinar matahari yang nyaris hilang selama enam bulan musim dingin.

Namun pada hari ini, hiruk-pikuk di Ibu Kota Kanada tersebut juga disebabkan oleh peringatan 70 tahun pertempuran angkatan laut Sekutu melawan angkatan laut Jerman di Samudera Atlantik. Perayaan hari istimewa tersebut dilangsungkan di ‘Monumen Nasional Peperangan’ (National War Memorial) di pusat kota dan oleh karenanya beberapa jalan utama terpaksa ditutup selagi upacara berlangsung.

Tujuh puluh tahun yang lalu di bulan Mei 1945, kapal selam terakhir Jerman (U-Boats) menyerahkan diri pada Sekutu, tidak lama setelah tercapainya pembebasan Eropa dari cengkeraman pendudukan Nazi Jerman—Victory in Europe Day (VE-Day).

Setelah berhasil menenggelamkan kapal penumpang Inggris (Athenia) di tepi pantai Irlandia di tahun 1939, kapal-kapal selam Jerman telah menebarkan kecemasan yang mendalam, tidak saja bagi armada angkatan laut Sekutu di Samudra Atlantik tetapi juga bagi kapal-kapal dagang komersial yang berlayar di lautan tersebut.

Saya sungguh beruntung dapat bertemu, walaupun hanya sebentar, dengan seorang ibu yang pernah bertugas di angkatan laut Kanada pada saat pertempuran di Atlantik semasa Perang Dunia II. Sayangnya saya tidak berhasil mendapatkan nama sang Ibu karena dirinya tengah asyik menceritakan ketegangan suasana peperangan di tengah samudera pada masa itu.

Dirinya pada waktu itu bertugas sebagai pembaca ‘kode sandi’ antar kapal dan sekaligus mengamat-amati apabila ada tanda-tanda pergerakan kapal selam musuh. Suatu tugas yang tidaklah mudah, terlebih lagi saat dirinya harus senantiasa awas dan sigap di tengah ganasnya gejolak ombak di samudera tersebut.

Perannya sebagai pembaca ‘kode sandi’ mengingatkan saya pada film the Imitation Game yang berhasil memenangkan Academy Award untuk kategori best adapted screenplay. Film tersebut mengisahkan keberhasilan ilmuwan Alan Turing menciptakan ‘mesin universal’ (universal machine) yang mampu memecahkan kode rahasia Nazi (enigma code) sehingga pasukan Sekutu akhirnya dapat menganalisa pergerakan mesin-mesin perang Jerman, termasuk kapal-kapal selam.

Indonesia tahun ini pun merayakan 70 tahun kemerdekaannya, terbebas dari penjajahan Kolonial Belanda. Mungkin dewasa ini—juga karena faktor usia—sudah jauh berkurang jumlah veteran perang kemerdekaan Indonesia yang dapat mengisahkan perjuangan mereka di era revolusi dahulu.

Sifat peperangan gerilya di waktu itu tidaklah dicirikan oleh pertempuran di mandala laut. Pertempuran laut antara Indonesia dan Belanda yang tercatat dalam lembaran sejarah nasional terjadi 18 tahun setelah proklamasi kemerdekaan 1945. Dalam ‘Pertempuran Laut Aru’ di tahun 1962 yang tersohor, Komodor Yos Sudarso sebagai pemimpin armada tempur Indonesia saat itu gugur.

Pada akhirnya dan dalam konteks kekinian, angkatan laut Indonesia yang digdaya—dilengkapi pasukan yang piawai, dengan kemampuan alutsista yang handal, termasuk di bidang intelijen—merupakan satu keniscayaan bagi Indonesia sebagai negara kelautan. Semoga, tekad pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia akan menjadikan Indonesia semakin jaya di lautan (Jalesveva Jayamahe).

Teuku Faizasyah, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kanada

Sumber : www.detik.com, Selasa 5 Mei 2015