Kedutaan Besar Republik Indonesia
Ottawa
Embassy of the Republic of Indonesia
Ambassade de la RÉpublique d'Indonésie

Patung Es Indonesia Memukau Festival Winterlude di Ottawa

Duta Besar RI bersama Icha Setiawan

PULUHAN mata memandang kagum pada patung angsa terbang di atas daun maple dan moose itu. Patung berbahan dasar es tersebut seolah ‘’hidup’’. ‘’Angsa terbang itu menggambarkan optimisme. Seperti kami yang rela menembus udara dingin untuk meramaikan Winterlude,’’ kata Natalia Morales, sambil tertawa.
Natalia adalah salah satu dari ribuan pengunjung yang memadati ‘’Festival Winterlude’’, di Ottawa Kanada, pada 31 Januari lalu. Winterlude adalah festival musim dingin tahunan yang telah diselenggarakan sejak 38 tahun silam.

Di tengah udara dingin bulan Januari (tak jarang sampai minus 25 derajat celcius), ribuan warga Ottawa dan kota-kota sekitarnya malah menyerbu lokasi panggung pertunjukan, berbagai permainan di tengah salju (seperti kereta luncur), bermain ice skating di kanal kota sepanjang 7 kilometer, dan/atau menikmati puluhan patung es yang beradu cantik di Taman Konfedarasi.

Patung es menjadi suguhan istimewa selama Festival berlangsung hingga 15 Februari nanti. Puluhan seniman patung es dari berbagai negara berlomba menyuguhkan karya terbaik mereka. Tak heran kalau di arena Festival berkibar gagah puluhan bendera dari, antara lain, Rusia, Perancis, Jepang, Polandia, dan Indonesia.

Indonesia? Ya, Indonesia menjadi salah satu penampil yang bisa dianggap istimewa. Meskipun beriklim tropis, Indonesia mengirimkan salah seorang senimannya untuk berpartisipasi dalam kompetisi patung es di Winterlude. Seniman itu adalah Icha Setiawan, 48 tahun, pengukir  patung angsa terbang yang banyak mengundang decak kagum pengunjung, termasuk Natalia.

Icha adalah seniman lukis dan patung alumnus Institut Kesenian Jakarta. Atas dorongan dan dukungan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ottawa, selama lebih dari 30 jam (sejak Jumat hingga Minggu pagi) Icha dengan tekun mengukir balok es menjadi karya seni yang menawan. Seorang diri. ‘’Capek sih. Tapi setelah mendengar komentar positif dari pengunjung, rasa capeknya hilang,’’ kata Icha sambil tersenyum.

Sebenarnya, Icha sempat punya konsep sendiri untuk patung yang akan ditampilkannya. Dia ingin menampilkan karya yang bernuansa atau memunculkan karakter ‘’keIndonesian’’. Sayangnya, panitia memutuskan tema untuk kompetisi ini adalah ‘’Discover Canada’s Flora and Fauna’’. Itulah sebabnya Icha akhirnya memahat figur yang mewakili flora dan fauna khas Kanada, yaitu angsa, daun maple (getahnya menjadi bahan sirup maple), dan moose (anggota keluarga kijang yang berbadan besar seperti sapi/kerbau).

Toh, Duta Besar Indonesia untuk Kanada Dr. Teuku Faizasyah tak dapat menyimpan kekagumannya pada karya Icha. ‘’Bagus sekali,’’ katanya.

Bagi Dubes Faizasyah, partisipasi Indonesia dalam kompetisi patung es ini saja adalah sesuatu yang luar biasa.  ‘’Menang atau kalah tidak menjadi soal. Yang lebih penting, Indonesia sebagai negara tropis ternyata juga punya jagoan mengukir es yang bisa bersaing di kelas dunia,’’ pungkasnya.