Kedutaan Besar Republik Indonesia
Ottawa
Embassy of the Republic of Indonesia
Ambassade de la RÉpublique d'Indonésie

Semangat CCA Membantu Koperasi Indonesia

Canadian Co-operative Association (Perhimpunan Koperasi Kanada/CCA) akan meningkatkan aktivitas kerja samanya di Indonesia. Setelah berada di Indonesia selama lebih dari 30 tahun, CAA meyakini bahwa pengembangan perkoperasian di Indonesia akan ikut mengangkat kesejahteraan masyarakat.

Demikian ditekankan Direktur Eksekutif CAA Michael Casey kepada Duta Besar Indonesia untuk Kanada Dr. Teuku Faizasyah, di Ottawa, pada Senin 9 Januari 2017 saat membahas dinamika perkoperasian di Indonesia

CCA beroperasi sejak lebih dari 40 tahun untuk membantu petani, pedagang dan produsen kecil dalam skema operasi kredit, mendidik dan melatih anggota (mobilisasi tabungan dan akses permodalan), dan mendukung penguatan koperasi. CCA saat ini telah beroperasi di puluhan negara di Amerika Selatan, Afrika, Eropa, dan Asia.

Di Indonesia, CCA berkiprah sejak awal 1980an. Melalui kerja sama dengan gerakan koperasi kredit (credit union), CCA  melakukan berbagai aktivitas untuk mengairahkan perekonomian rakyat melalui jalur koperasi. Salah satu cerita sukses CAA di Indonesia adalah kerja samanya dengan Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) untuk meningkatkan kapasitas produksi para petani susu sapi di Lembang, Jawa Barat, pada 1990an. ‘’Selama 6 tahun, saya bekerja di tengah-tengah ribuan petani susu di Lembang dan Bandung. Dua anak saya bahkan lahir di Indonesia,’’ kata Direktur Casey sambil tersenyum.

Saat ini CCA sedang memotori program ‘’Invest Co-op: Indonesia’’, untuk meningkatkan kapasitas produksi lebih dari 10 ribu petambak rumput laut, bandeng dan udang di Sulawesi Selatan. Bekerja sama dengan beberapa koperasi setempat, CCA berusaha mendongkrak kontribusi tiga produk itu bagi Pendapatan Asli Daerah dari 38,87% (2015) menjadi 45,52% (2018).

Memanfaatkan teknologi yang dikembangkan para ahli perikanan di Universitas Memorial di Provinsi New Foundland, Kanada, para petambak di Sulsel mengembangkan model polikultur, mengembangkan rumput laut, bandeng dan udang bersama-sama di sebuah kolam. ‘’Potensi keberhasilannya cukup tinggi, karena hingga saat ini kami baru memanfaatkan 30% dari lahan yang tersedia,’’ imbuh Muhammad Andri Mulia, Manajer Program CCA.

Di samping meningkatkan kapasitas produksi, program ‘’Invest Co-op: Indonesia’’ juga ikut memikirkan perihal akses pembiayaan dan pemasaran bagi para petambak, termasuk menyalurkan produknya ke pasar internasional.

Menurut Direktur Casey, CCA saat ini sedang menunggu persetujuan Pemerintah Kanada untuk program peningkatan kapasitas petani susu di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan memanfaatkan model keberhasilan di Jawa Barat.

Dubes Faizasyah menyambut baik komitmen CCA. Selain mendorong kehidupan perkoperasian dan meningkatkan kesejahteraan petani tambak, program ‘’Invest Co-op: Indonesia’’ juga sejalan dengan tekad Pemerintah Indonesia untuk memfokuskan kebijakan pada pengembangan sektor perikanan dan kelautan. ‘’Program tersebut sejalan dengan fokus pemerintah Indonesia untuk mengembangkan sektor maritim,’’ kata Dubes Faizasyah.

Untuk lebih memberi nilai tambah pada hubungan bilateral Indonesia – Kanada, Dubes Faizasyah menyarankan agar CCA untuk juga menjajaki kerja sama koperasi petambak di Sulsel dengan para importir produk perikanan di Kanada. Selama 2015 ekspor produk perikanan dan seafood Indonesia ke Kanada baru mencapai US$ 23,3 juta, masih di bawah Vietnam (US$ 148,6 juta) dan Thailand (US$ 221,1 juta). Mengingat ekspor perikanan nasional yang mencapai US$ 4 milyar (2015), potensi bagi peningkatan ekspor ikan Indonesia ke Kanada tentunya masih terbuka luas.

Itulah sebabnya, menurut Dubes Faizasyah, untuk tahun anggaran 2017 ini KBRI Ottawa akan berusaha lebih keras untuk mempromosikan produk perikanan Indonesia di pasar Kanada.

KBRI Ottawa – Januari 2017