Kedutaan Besar Republik Indonesia
Ottawa
Embassy of the Republic of Indonesia
Ambassade de la RÉpublique d'Indonésie

Menlu RI Dorong Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Perdamaian Dunia dan Pemberantasan Terorisme

Montreal, 22 September 2018. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyerukan masyarakat internasional dan negara-negara anggota PBB untuk mendorong peningkatan partisipasi perempuan dalam upaya perwujudan perdamaian dunia, termasuk dalam memerangi terorisme dam radikalisme. Seruan ini disampaikan Menlu RI pada pada Pertemuan Menteri Luar Negeri Perempuan (Women Foreign Ministers’ Meeting) di Montreal, Kanada, 21-22 September 2018.

“Sebagai bagian misi perdamaian PBB, perempuan memiliki kelebihan antara lain dalam hal kemampuan persuasi, penerimaan oleh masyarakat lokal, serta perlindungan bagi kalangan sipil dari kekerasan seksual serta kekerasan berbasis gender”, jelas Menlu RI.

Saat ini Indonesia adalah salah satu negara kontributor terbesar pasukan perdamaian PBB dengan jumlah personil sekitar 3500 dan 111 di antaranya adalah perempuan.

Untuk mendorong peningkatan partisipasi perempuan, Indonesia mengusulkan pembentukan gugus tugas khusus PBB yang mengawasi pengiriman personil perempuan dalam misi perdamaian.

Selain itu, diusulkan pula adanya satu unit pasukan perdamaian yang hanya beranggotakan personil perempuan untuk ditugaskan pada wilayah konflik yang rawan bagi perempuan dan anak-anak.

Di tingkat nasional, Indonesia juga terus mendorong penyiapan personil perempuan dalam misi pemeliharaan perdamaian. Hal ini dilakukan antara lain dengan memasukkan perspektif gender dalam kurikulum pelatihan Pusat Pelatihan Misi Pemeliharaan Perdamaian di Sentul.

Dalam pertemuan yang digagas oleh Menlu Kanada dan Uni Eropa ini, Menlu RI juga mendorong penguatan kerja sama global untuk memerangi aksi terorisme, termasuk melalui peningkatan peran perempuan dalam program deradikalisasi.

Hal ini khususnya untuk merespons fenomena pelibatan perempuan dan anak-anak dalam aksi terorisme yang marak terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

“Pemberdayaan perempuan menjadi faktor kunci dalam mengatasi radikalisme dan terorisme, dan harus dimulai pada lingkup komunitas”, tegas Menlu Retno.

Salah contoh kerja nyata dalam hal ini adalah program Desa Damai yang diadakan oleh Wahid Foundation di Indonesia untuk memberdayakan peran perempuan dalam penanganan konflik dan mengembangkan pluralisme.

Pertemuan Menlu Perempuan yang pertama ini dihadiri oleh 15 Menlu dari Andorra, Bulgaria, Costa Rica, Ghana, Guatemala, Indonesia, Kanada, Kenya, Namibia, Norwegia, Panama, Saint Lucia, South Africa, Swedia dan Uni Eropa. Turut hadir pula sebagai undangan Menlu Jepang.

Beberapa isu utama yang dibahas dalam pertemuan ini antara lain pemberdayaan partisipasi politik, dan kepemimpinan perempuan, penguatan demokrasi, peran dalam perdamaian dan keamanan internasional, serta penghapusan kekerasan berbasis gender.

Di sela-sela pertemuan, Menlu juga melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu Swedia, Bulgaria, dan Panama, serta melakukan interaksi dengan perwakilan organisasi masyarakat sipil di bidang perempuan dan perdamaian.

Selama di Montreal, Menlu juga berkesempatan mengunjungi Kantor Kepentingan Indonesia Pada Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). (a.setiawan ed)