Search

powered by FreeFind

Berita > Mancanegara > Hukum
 

PROBLEM MASYARAKAT ESKIMO DAN KISAH TRAGIS PENEGAK HUKUM

The Globe and Mail dan The Ottawa Citizen - November 9, 2007

Atas: Bintara RCMP Douglas Scott
Bawah: Anggota kepolisian nasional Kanada (RCMP - Royal Canadian Mounted Police) mengusung peti jenazah kolega mereka, Constable Doug Scott, 20, yang terbunuh dalam tugas di provinsi Nunavut, Kanada bagian utara. (Foto: Julie Oliver, harian The Ottawa Citizen)

Dua bulan menjelang tutup tahun 2007, Kanada dihentakkan oleh satu peristiwa tragis atas tewasnya bintara polisi (RCMP – Royal Canadian Mounted Police) di Kimmirut, sebuah dukuh terpencil di kawasan provinsi Nunavut yang termasuk dalam lingkaran kutub utara. Kematian bintara Douglas Scott ini tidak hanya memberi pukulan berat bagi korps RCMP , tapi juga membuka kembali problem akut yang dihadapi penduduk asli Inuit (Eskimo) yang mendiami wilayah yang sangat luas di bagian utara Kanada .

Bintara Scott (21) ditemukan tewas tertembak di dalam mobil dinasnya ketika menangani penyelidikan tindak kekerasan rumah tangga (domestic violence). Pada tanggal 5 November lalu, bintara Scott menerima pengaduan telepon dari warga Kimmirut, bahwa Pingwaktuk Kolola (37, biasa dipanggil Ping) terlihat mengendarai mobil dalam keadaan mabuk dan mengejar pacarnya selepas pertengkaran hebat di antara keduanya. Atas pengaduan tersebut, menurut saksi mata, Bintara Scott langsung membuntuti mobil Ping ke wilayah pinggiran Kimmirut. Beberapa saat kemudian Bintara Douglas Scott ditemukan tewas. RCMP langsung bertindak cepat dan menahan Ping sebagai tersangka tunggal.

Peristiwa ini bukan hanya menggegerkan Kimmirut yang berpenduduk hanya 400 orang, tetapi menjadi berita nasional yang sangat mengejutkan seluruh warga Kanada.

Peristiwa tragis ini terasa menyentak karena merupakan peristiwa kedua kali dalam dua bulan terakhir. Sebelumnya pada Oktober lalu, Bintara Christopher Worden ditembak hingga tewas di Hay River, Propinsi North West Territory. Tingkat kematian ini terbilang sangat tinggi dalam record RCMP karena sejak dibentuknya RCMP pada tahun 1873, tercatat hanya 61 opsir RCMP yang tewas dalam tugas. Dengan kata lain tingkat kematian RCMP hanya 1 opsir dalam setiap 2 tahun.

Di sisi lain peristiwa ini juga membuka tabir tentang berbagai masalah psikologi dan sosial yang dialami penduduk asli Kanada yang berasal dari suku Inuit.

Problem kekerasan rumah tangga di pemukiman pendudukan asli bukanlah merupakan problem baru. Biasanya, kekerasan ini dipicu oleh tingginya konsumsi minuman keras dan narkoba oleh kaum muda Inuit.

Dikalangan masyarakat Kimmirut yang hanya berjumlah 400 orang, Bintara Scott yang berasal dari provinsi Ontario merupakan sosok yang ramah dan mudah bergaul dengan penduduk setempat. Dia juga dikagumi dan membawa keceriaan bagi masyarakat setempat. Ia mudah beradaptasi dengan iklim kutub utara yang keras, terpencil dan salju yang tidak pernah cair. Tantangan wilayah yang keras dengan fasilitas terbatas tidak menyurutkan langkahnya untuk bertugas di wilayah tersebut.

Di wilayah ini, tidak ada kantor nyaman sebagaiman kantor polisi di wilayah lain. Tidak ada fasilitas penjara bagi pelanggar hukum. Tak heran, jika komunitas di wilayah ini menggugat kebijakan pemerintah federal yang tak kunjung membangun fasilitas memadai dalam penegakan hukum. Cakupan wilayah luas dengan medan yang keras, tidak mungkin ditangani oleh seorang RCMP.

Tetapi, penambahan personil sama artinya penambahan anggaran, dan hal inilah yang menjadi kendala penegakan hukum di kalangan penduduk asli wilayah terpencil kutub utara. Padahal, problem-problem sosial di kalangan penduduk asli semakin tinggi dan pada akhirnya menjadi salah satu penyebab munculnya kekerasan dan kriminalitas. Oleh karena itu, tugas seorang polisi di kalangan penduduk asli wilayah terpencil amatlah berat.

Tingginya angka kriminalitas dan problem sosial di kalangan penduduk asli menimbulkan keprihatinan tersendiri. Jack Hicks, pakar sosial yang menetap di Iqaluit menyatakan dengan pedih.

“Ada begitu banyak penduduk asli yang merasa terputus dengan akar budaya mereka sendiri” katanya.

Saat ini, Jack sedang menulis disertasi mengenai penyebab tingginya angka bunuh diri di kalangan masyarakat Iqaluit.

Lebih lanjut ia menjelaskan, jika dahulu masyarakat asli bisa dengan mudah mempertahankan kulturnya, sekarang budaya mereka ter-infiltrasi oleh dunia modern. Padahal, the ancient culture merupakan benteng kenyamanan hidup mereka. Saat ini, katanya, penduduk asli mengalami problem sosial yang parah diantaranya angka bunuh diri sembilan kali lebih tinggi dari rata-rata warga Kanada lain, kekerasan domestik atau spouses abuse , child abuse, serta kriminalitas.

Pendapat ini didukung oleh Johnny Temela yang lahir dan besar di Kimmirut.

“Dulu, kami dan para orang tua kami menghabiskan waktu dengan alam dan berburu. Sekarang, anak-anak menghabiskan waktu dengan Baywatch dan MTV serta bertingkah laku seperti rappers. Hidup kini berbeda.” Katanya sambil matanya menerawang ke tengah hamparan salju. Yang pasti, katanya, kami sungguh kehilangan Doug ‘the cute mountie' Scott. ***

Disarikan dari harian Kanada: The Globe and Mail dan The Ottawa Citizen


55 Parkdale Avenue, Ottawa, Ontario K1Y 1E5; T: 1.613.724.1100; F: 1.613.724.1105; Email